Laman

Please Select The Desired Language

English French German Spain Italian Dutch Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

20 Jan 2012

Kisah Dua Biji Kacang



Di sebuah ladang yang luas ada dua butir bibit kacang yang sedang ingin tumbuh. Bibit yang pertama mulai mngutarakan keinginganya, “ Suatu saat nanti aku ingin tumbuh besar, aku ingin menghujamkan akar-akarku agar jauh ke dalam tanah. Menjulangakn tunasku diatas kerasnya tanah ini. Aku ingi membentangkan sumua tunasku, untuk menyampaikan salam musim semi. Aku ingin merasakan hangatnya matahari di daun-daunku. Aku ingin merasakan kelembutan embun pagi di pucuk-pucuk daunku. Wah betapa bahagianya aku.”

Sementara bibit yang kedua juga mengutarakan keinginan hatinya: “ Tidak aku takut, jika kutanamkan akarku di tanah ini, aku tak tahu apa yang akan kutemui di dalam sana. Bukankah di dalam sana itu sangat gelap. Jika kuteroboskan tunasku ke atas, aku takut keindahan tunasku akan hilang. Tunasku pasti akan terinjak, terkoyak dan rusak, aku tidak biasa membayangkan bila tunasku terbuka, pasti siput-siput itu akan mencoba memakanku  dan pasti jika aku tumbuh nanti, anak-anak kecil akan mencabutku. Tidak, aku lebih baik menunggu semuanya aman dan nyaman. Itu lebih baik menurutku.”

Kemudian keduanya melakukan apa yang telah menjadi harapan dan keinginanya. Bibit yang pertama terus tumbuh dan menjulang. Sementara bibit yang kedua menunggu dalam kesendiraian, kesunyian dan kesepian. Suatu ketika, ada seekor ayam sedang mengais-ngais tanah di sekitar bibit kedua berada, ayam tersebut mematuk bibit ke dua dan semuanya menjadi gelap selamanyaayam.

Kawan, di dunia ini banyak sekali berbagaia macam halang dan rintang yang terus mengiringi kita, bahkan kadang semuanya tampak jelas menghadang di depan kita. Tapi kita tidak akan pernah tahu kekuatan yang ada dalam diri kita tanpa berani menghadapinya. Kita tidak dapat menunggu dunia benar-benar aman untuk melangkah, dan ingatlah bahwa waktu yang kita lewati dengan ketakutan perlahan-lahan telah mengubur diri kita selamanya.

0 komentar:

Posting Komentar