Laman

Please Select The Desired Language

English French German Spain Italian Dutch Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

20 Jan 2012

Pemandangan di Jendela Rumah Sakit


Dua orang pria sedang di rawat di sebuah kamar Rumah Sakit, seorang diantaranya menderita penyakit yang mengharuskannya duduk di tempat tidur selama satu jam setiap sore untuk mengosongkan cairan dari paru-parunya. Kebetulan tempat tidurnya berada tepat dekat jendela di kamar itu, sedangkan pria lainnya harus berbaring lurus di atas punggungnya. Setiap sore, mereka saling berbincang selama berjam-jam. Ketika pria yang tempat tidurnya berada dekat jendela diperbolehkan untuk duduk, ia menceritakan tentang apa yang terlihat di luar jendela kepada teman sekamarnya. Selama 1 jam, pria lain merasa senang dan bergairah membayangkan betapa indahnya di luar sana.

“Hey, kamu tahu tidak. Di luar jendela sana, ada sebuah kolam dengan taman yang indah. Angsa dan teratai menghiasi indahnya air dalam kolam, sedangkan di tepi kolam ada anak-anak yang sedang bermain, orang tua mereka berjalan bergandengan tangan di tengah taman yang dipenuhi dengan macam-macam bunga yang berwarna warni, dan juga nyanyian burung pipit yang menjadikan suasana penuh dengan keindahan. Sungguh senja yang sangat indah!”, kata pria yang berada dekat jendela itu dengan bersemangat.


Mendengar cerita temannya, pria yang sedang berbaring memejamkan mata, sambil membayangkan semua keindahan yang telah diceritakan oleh temannya tadi. Perasaannya menjadi lebih tenang dalam menjalani kesehariannya di Rumah Sakit itu. Semangat hidupnya menjadi lebih kuat, dan percaya dirinya semakin bertambah.

Pada suatu sore di hari yang lain, pria yang duduk di dekat jendela menceritakan tentang parade karnaval yang sedang melintas disana. Meski pria yang kedua tidak dapat mendengar suara-suara parade tersebut, namun ia dapat melihatnya melalui pandangan mata pria yang telah menceritakan tentang parade tersebut, yang telah menggambarkan semua itu dengan kata-kata yang indah. Begitulah seterusnya, dari hari ke hari, minggu ke minggu, hingga bulan ke bulan.

Dan hingga suatu pagi, pria yang terbaring di dekat jendela itu meninggal dunia dengan tenang di dalam tidurnya.

Temannya yang satu kamar itu merasa sangat sedih. Kemudian ia meminta perawat agar dapat memindahkannya ke tempat tidur temannya tadi.

Dengan perlahan dan kesakitan, pria ini memaksakan dirinya untuk bangun. Ia ingin sekali melihat keindahan dunia luar melalui jendela Rumah Sakit. Betapa senangnya ia, karena kini ia dapat melihat sendiri dan menikmati semua keindahan tersebut. Hatinya tegang, dengan perlahan ia mengeluarkan kepalanya ke jendela di samping tempat tidurnya. Dan ternyata, yang terlihat olehnya adalah sebuah dinding kosong yang tinggi.

Karena bingung, ia bertanya pada perawat. Apa yang membuat temannya yang sudah meninggal tersebut, bercerita seolah-olah melihat semua pemandangan yang luar biasa indah di balik jendela itu.

Kemudian perawat tersebut menjawab, “Tahukah anda bahwa sesungguhnya, pria itu seorang yang buta, bahkan tidak dapat melihat dinding yang tinggi itu”. 

Pria itupun terpaku memandangi dinding yang tinggi dari jendela. Dan, sebelum perawat itu keluar ruangan, ia mengatakan sesuatu yang terlintas dalam fikirannya, “Barangkali, ia hanya ingin memberimu semangat hidup”. Dalam hatinya laki-laki itupun berkata, "Sungguh ia orang yang sangat mulia, ketika ia sudah tidak memiliki harapan lagi untuk sembuh, ia malah memberikan semangat kepada orang lain untuk sembuh".

0 komentar:

Posting Komentar