Laman

Please Select The Desired Language

English French German Spain Italian Dutch Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

28 Agt 2013

Anak Kecil dan Polisi Tidur


Bangun pagi dan pergi ke kantor adalah kegiatan rutinitas yang cukup membosankan. Namun daripada membuang-buang waktu dengan sia-sia, biasanya saya gunakan untuk berpikir banyak hal yang dapat membuat perjalanan sampai ke kantor tanpa terasa lama.

Ada satu hal unik pagi ini yang membuat saya tidak bisa berhenti memikirkannya. Saya tengah melewati suatu jalan yang di sana ada seorang anak kecil sedang belajar bersepeda, dan ketika melewati polisi sebuah tidur ia terjatuh.

Ia segera bangkit lagi lalu membenarkan posisi sepeda kecilnya. “Wow!” saya tidak sadar mengeluarkan kata itu. Sayapun meminggirkan sepeda motor dan berpura-pura sedang menunggu orang, hal itu saya lakukam hanya agar bisa terus memperhatikan anak tersebut.

Kemudian anak tersebut mendorong sepedanya melewati polisi tidur itu dan berbalik arah untuk kembali menantang polisi tidur yang tadi ‘mengalahkannya.’ Ia kembali mengayuh sepedanya dengan mantap, dan kali ini ia berhasil melewatinya meski sedikit kurang stabil dan hampir terjatuh kembali.

Tak lama kemudian seorang anak perempuan sepertinya kakak anak itu menghampirinya. Anak itu lalu meminta kakaknya untuk mengajarkan cara terbaik untuk mengayuh melewati polisi tidur.

Setelah itu, saya melanjutkan perjalanan ke kantor sembari berpikir. Kata-kata pertama yang melintas di pikiran saya adalah, “Anak kecil tadi lebih hebat dari kebanyakan orang besar.” Saya sengaja menggunakan kata ‘orang besar’, seperti yang akan saya jelaskan di belakang nanti.

Kebanyakan orang besar berusaha menjauhi rintangan yang ada dengan melalui jalan lain. Sama seperti yang saya lakukan beberapa hari yang lalu. Saya melewati sebuah jalan yang memiliki beberapa tanjakan ataupun polisi tidur. Rasanya kurang menyenangkan, ditambah dengan perut terasa seperti diacak acak dan tangan yang pegal karena harus mengontrol gas dan rem bergantian setiap detiknya.

Setiap kali lewat di sana, saya berpikir “Bagaimana caranya untuk melewati jalan ini dan sampai di tujuan saya, namun saya tidak perlu mengalami perasaan tidak enak yang ada tadi setelah tanjakan pertama?” Otak saya segera menjawab, ”Silahkan menunggu keajaiban!”

Tapi keajaiban seperti itu tidak akan datang.....................!!!

***

Kawan, lupakan khayalan dan harapan yang terlalu mengada-ada. Cara terbaik dan tercepat untuk menghadapi sebuah masalah adalah maju dan lalui rintangan itu, sama seperti anak kecil dengan sepedanya yang berani menantang kembali rintangan yang sebelumnya berhasil menjatuhkan dirinya.

Kebanyakan orang besar atau tua tidak mau mengakui bahwa kegagalan yang ada atau terjadi berasal dari dalam diri sendiri. Mereka mencari kambing hitam untuk disalahkan. Misalnya ketika terjatuh seperti anak kecil tadi, mereka akan mengeluh, “Kenapa sih polisi tidur ini harus ada di sini?”, “Kenapa kamu harus lewat di jalan ini sehingga kamu tertabrak oleh saya?”, “Kenapa dia harus sukanya sama orang yang sifatnya berbeda sama saya, itu salah dia!”

Orang yang seperti itu akan sulit melihat ke dalam dirinya. Mereka cenderung melihat ke arah luar dan menyalahkan segala sesuatu.

8 komentar:

Posting Komentar