Laman

Please Select The Desired Language

English French German Spain Italian Dutch Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

9 Apr 2012

Hiduplah Seperti Pensil


Aku baru saja pulang dari sekolah. Sewaktu memasuki rumah, ku lihat Ibu tengah asyik menulis sesuatu dengan sebatang pensil. Dengan perasaan sedikit penasaran, aku lalu menghampiri Ibu dan bertanya. "Ibu sedang menulis apa?"

Mendengar pertanyaanku yang tiba-tiba, Ibu sedikit terkejut dan berhenti menulis, "Oh kamu sudah pulang rupanya?, Ibu sedang menulis tentang kamu nak."

"Oh... ya, Ibu menulis apa tentang Rani?" tanyaku lagi dengan perasaan yang semakin penasaran.

"Bukan hal yang penting, Ibu hanya menulis cita-citamu yang dulu pernah kamu ucapkan kepada Ibu. Ibu berharap dalam usaha meraih cita-citamu itu, kamu dapat mengingat pensil yang Ibu gunakan untuk menulis ini."

"Apa maksudnya Bu, mengapa Rani harus selalu mengingat pensil itu? Lagipula pensil itu terlihat biasa saja, sama seperti pensil lainnya."

Dengan tersenyum Ibu menjawab, "Kamu betul anakku, tapi apakah kamu tahu di balik pensil ini sebenarnya tersimpan kualitas yang bisa membuatmu selalu tenang dalam menjalani hidup?"

"Rani jadi semakin bingung, maukah Ibu menjelaskannya kepada Rani?" tanyaku dengan bingung.

"Tentu saja anakku," jawab Ibu dengan penuh kasih."Ingatlah bahwa dari sebuah pensil kayu yang amat sederhana ini tersimpan 5 kualitas. Kualitas pertama, pensil dapat mengingatkanmu bahwa kau bisa melakukan hal yang hebat dalam hidup ini. Layaknya sebuah pensil ketika menulis, kau jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu membimbing langkahmu dalam hidup ini. Kita menyebutnya tangan Tuhan, Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendak-Nya".

"Kualitas kedua, dalam proses menulis, kita kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil yang kita pakai. Rautan itu pasti akan membuat pensil menderita. Tapi setelah proses meraut selesai, pensil itu akan mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga denganmu, dalam hidup ini kau harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, karena merekalah yang akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik".

"Kualitas ketiga, pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk mempergunakan penghapus, untuk memperbaiki kata-kata yang salah. Oleh karena itu memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini, bukanlah hal yang jelek. Itu bisa membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar".

"Kualitas keempat, bagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah bagian luarnya, melainkan arang yang ada di dalamnya. Oleh sebab itu, selalulah hati-hati dan menyadari hal-hal di dalam dirimu".

"Kualitas kelima, adalah sebuah pensil selalu meninggalkan tanda/goresan. Sama seperti manusia, kau harus sadar kalau apapun yang kau perbuat dalam hidup ini akan meninggalkan kesan. Oleh karena itu selalulah hati-hati dan sadar terhadap semua tindakan."

"Bagaimana, apakah kamu suadah mengerti sekarang?" tannya ibu sambil menatap mataku.

"Iya Bu, Rani sekarang mengerti maksud Ibu. Terimakasih Bu karena telah mengingatkan Rani." jawabku dengan haru.

Aku lalu beranjak menuju kamar dan meninggalkan Ibu melanjutkan tulisannya. Hari itu aku mendapatkan sebuah pelajaran yang sangat berharga dari Ibu. Dalam hati aku berkata "Akan kutuliskan semua kisah hidupku ini dengan sebuah pensil 5 kualitas."

1 komentar:

Posting Komentar