Laman

Please Select The Desired Language

English French German Spain Italian Dutch Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

30 Mei 2012

Aku Bahagia dengan yang Kumiliki


Dengan hati gundah dan kecewa karena tidak ada yang memperhatikan segala usaha dan kebaikannya, seorang pekerja yang sudah bertahun-tahun berkarya, memutuskan untuk menghentikan segala usaha dan kembali ke kampung halamannya. Untuk menghibur diri dan melupakan segala kekecewaan yang menghimpit perasaan, ia berjalan-jalan tanpa tujuan menelusuri padang ilalang yang tampak gersang. 

Tiba-tiba ia terpana memandang sekuntum mawar yang tengah mekar diantara batang ilalang. Mawar itu begitu indah dan segar, kontras sekali dengan alam disekitarnya. Dalam benak orang itu lalu muncul sebuah pertanyaan, “untuk apa mawar ini tumbuh di sini? Di sini tidak akan ada yang menghargai keindahannya, tak kan ada yang menghirup kesegarannya”. Sambil melangkah melanjutkan perjalanannya, ia bergumam, “kasihan kau mawar, keindahanmu hanya sia-sia saja.”

Keesokan harinya, ketika ia kembali melalui jalan itu, ia kembali melihat mawar yang tetap mekar dengan segala keindahannya. Karena penasaran, ia lalu duduk sambil mengamati mawar itu sambil bertanya dalam hati, “bahagiakah mawar ini hidup sendiri di antar rerumputan ilalang?”

Dalam keheningan di padang ilalang itu, tiba-tiba ia seperti mendengar sebuah suara berkata lembut kepada dirinya, “Aku bahagia, aku sungguh bahagia!” 

Dalam hati ia kembali bertanya, “Bagaimana engkau bisa bahagia di tempat seperti ini, tak ada yang memperhatikanmu, tak ada yang mengagumimu?” 

Suara itu kembali terdengar, “Aku bahagia karena aku memiliki keindahan, keharuman, aku dapat tumbuh, dan berbunga. Memang aku memiliki duri yang membuat orang atau siapapun yang mendekatiku bisa terluka. Tetapi aku tahu dan aku dapat menerimanya, karena ini memang bagian dari diriku. Yang jelas aku tak mau melukai sapapun. Ini adalah diriku, aku lebih suka tumbuh dan berbunga, memberi keharumanku daripada memikirkan duri-duriku. Dan satu hal lagi, meskipun tak banyak orang mengagumiku, saat ini aku sangat bahagia, karena engkau ada bersamaku di sini sekarang. Kehadiranmu juga berarti bagiku, meskipun engkau hanya lewat dan sekedar berhenti sesaat untuk melihatku”.

Pekerja itu lalu bangkit dari duduknya, “Bunga mawar tumbuh di tengah ilalang dan bahagia dengan keadaannya. Begitu juga denganku, aku ingin bahagia dengan apa yang kumiliki.”, kalimat itu terus bergema ketika ia melanjutkan perjalannya. 

0 komentar:

Posting Komentar