Laman

Please Select The Desired Language

English French German Spain Italian Dutch Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

10 Feb 2012

di Mars Tidak Mungkin Ada Kehidupan


Studi terbaru dari sekelompok peneliti internasional menyimpulkan bahwa Mars tidak dapat didiami karena kegersangannya.

Menurut hasil studi yang berlangsung dalam tiga tahun terakhir ini, permukaan planet telah tandus untuk kurun waktu 600 juta tahun. Permukaan Planet Mars dipastikan merupakan tempat yang tidak memungkinkan untuk menopang kehidupan dalam bentuk apapun.

Bukti temuan endapan es yang juga didapatkan dari penelitian, menunjukkan si planet merah memiliki air atau lautan pada periode lebih dari tiga miliar tahun yang lalu.

Studi itu berdasarkan data yang diambil Phoenix, pesawat robotik yang mendarat di Mars pada Mei 2008 lalu. Sampel tanah yang digali oleh lengan robot dengan mikroskop optik untuk melihat partikel yang lebih besar dari butir pasir dan mikroskop atom untuk mendapat citra tiga dimensi partikel yang berukuran lebih kecil, kemudian dianalisis.

Ternyata komposisi tanah liat dalam tanah Mars sangat kecil, kurang dari 0,1 persen dari total komposisi. Tanah liat adalah indikator penting adanya peranan air pada tanah. Di Bumi, komposisi tanah liatnya mencapai 50 persen atau lebih.

Tentu sangat sulit bagi kehidupan untuk mampu bertahan di permukaan yang demikian kering. Walaupun tanah yang diteliti hanya bagian dari satu area namun telah dikonfirmasi dari studi sebelumnya kalau tanah di seluruh Planet Mars sejenis.

Dr Pike dari Imperial College London, Inggris yang mengepalai studi berpendapat, misi-misi Mars berikutnya--yang sudah dicanangkan Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) maupun Badan Antariksa Eropa (ESA)--perlu lebih kerja keras mencari bukti kehidupan di tempat ini. 

"Meski terbukti juga pernah ada air yang terbentuk di Mars, tapi kekeringan hebat juga dialami Mars untuk waktu ratusan juta tahun lamanya. Kami pikir tak ada tanda-tanda kehidupan di Mars untuk sekarang," kata Pike.

Sumber: National Geographic Indonesia

1 komentar:

  • Arni says:
    1 Maret 2013 00.19

    mksh infonya

Posting Komentar