Laman

Please Select The Desired Language

English French German Spain Italian Dutch Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

17 Feb 2012

Duka di Tengah Perjalanan


Di kejauhan lampu lalu lintas diperempatan itu masih menyala hijau. Seorang pria sebut saja Jack, segera menekan pedal gas kendaraannya. Ia tidak mau terlambat apalagi perempatan cukup padat, sehingga lampu merah menyala cukup lama. Lampu berganti kuning hati Jack berdebar berharap semoga ia bisa melewatinya. 3 Meter menjelang garis jalan lampu merah menyala, Jack bimbang haruskah ia berhenti atau terus melaju. “Ah..., aku tidak punya waktu untuk menginjak rem mendadak” pikir Jack sambil terus melaju.
Tiba-tiba ia mendengar suara peluit, tampak di seberang jalan seorang polisi melambaikan tangan memintanya  untuk berhenti. Jack menepikan kendaraan sambil mengumpat dalam hati. Dari kaca spion ia melihat siapa polisi itu yang tak lain adalah Bobby, teman mainnya semasa SMU dulu. Kemudian Jack memutar keluar sambil membuka kedua lengannya sambil berkata “Hai bob, senang sekali bertemu kamu di sini”.

“Hai jack” jawab bobby tanpa senyum.

“Waduh sepertinya saya kena tilang lagi. Saya memang agak buru-buru Bob. Maklum hari ini istri saya ulang tahun, dia dan anak-anak sudah menyiapkan segala sesuatunya.” Jack mencoba berkilah.

“Hmmm..., sebenarnya saya mengerti, tapi sebenarnya kami sering memperhatikanmu melintasi lampu merah di persimpangan ini. Sekarang berikan SIM mu Jack”, jawab Bobby.

Kemudian ia menuliskan sesuatu di buku tilangnya. Melihat sikap Bobby yang dingin, Jack masuk ke mobil dan memandangi wajah Bobby dengan penuh kecewa. Dibukanya kaca mobil itu sedikit cukup untuk memasukkan surat tilang. Tanpa berkata-kata Bobby kembali ke posnya, dan Jack mengambil surat tilang yang diselipkan bobby di sela kaca jendela. Tapi ternyata SIM nya dikembalikan bersama dengan sebuah nota tulisan tangan bobby yang isinya sebagai berikut:
“Halo jack, tahukah kamu Aku dulu memiliki anak perempuan. sayang dia telah meninggal tertabrak pengemudi yang ngebut menerobos lampu merah. Pengemudi itu dihukum penjara selama tiga bulan, begitu bebas ia bisa bertemu dan memeluk ketiga anaknya lagi. Sedangkan anak kami satu-satunya sudah tiada, kami terus berusaha dan berharap agar tuhan mengkaruniai kami seorang anak agar bisa kami peluk. Ribuan kali kami mencoba memaafkan pengemudi itu, betapa sulitnya Jack. Begitu juga kali ini, maafkan aku teman, doakan agar permohonan kami terkabulkan. berhati-hatilah dijalan. Salam Bobby."
Setelah membacanya, Jack terhenyak dan langusng mencari Bobby, tetapi ia telah meninggalkan pos. Dan sepanjang jalan pulang ia mengemudi perlahan dengan hati tak menentu sambil berharap kesalahannya dimaafkan.

***

Kawan, Tidak selamanya pengertian kita harus sama dengan pengertian orang lain. Bisa jadi tawa kita tidak lebih dari duka rekan kita. Hidup ini sangat berharga, jalanilah dengan penuh hati-hati.

0 komentar:

Posting Komentar