Laman

Please Select The Desired Language

English French German Spain Italian Dutch Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

19 Feb 2012

Kelalaian Si Tukang Kayu


Pada suatu hari, seorang tukang kayu tua bermaksud pensiun dari perusahaan konstruksi real estate tempatnya bekerja. Tentu saja, walau ia tahu akan kehilangan penghasialan bulanannya, tapi keputusan yang ia ambil sudah bulat. Ia merasa lelah, ia ingin beristirahat, dan ingin menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian bersama istri dan keluarga.

Mendengar keputusan tukan kayu tua itu, pemilik perusahaan merasa sangat sedih, ia merasa kehilangan salah satu pekerja terbaiknya. Sebagai permintaan terakhir dan kenang-kenangan, lalu ia minta kepada si tukang kayu tua membuatkan sebuah rumah kayu untuknya. 

Tukang kayu itupun bersedia memenuhi keinginan pribadi pemilik perusahaan. Walau sebenarnya ia merasa terpaksa karena segera ingin berhenti. hal ini menjadikan pikiranya tidak dicurahkan sepenuhnya pada pekerjaannya, dan dengan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu. Bahan yang ia gunakanpun hanya bahan sederhana. Setelah beberapa lama, akhirnya rumah itupun selesai ia kerjakan.

Namun sayang hasilnya tidak seperti yang diinginkan, bangunan itu tidak seperti telah dikerjakan seorang tukang kayu yang ahli. Sungguh sangat disayangkan, ia harus mengakhiri karir dengan prestasi yang tidak mengagumkan. Ketika pemilik perusahaan itu datang untuk melihat rumah yang dimintanya, ia menyerahkan sebuh kunci pada si tukang kayu dan berkata. "Sebenarnya rumah yang saya minta itu untuk anda sebagai hadiah dari saya sebagai penghargaan atas pengabdian anda selama ini".

Mendengar hal itu betapa terkejutnya situkang kayu, malu, dan juga menyesal. Seandainya saja ia mengetahui bahwa rumah yang ia bangun adalah untuknya, tentu ia akan mengerjakannya dengan cara yang lain. Dan sejak saat itu ia harus tinggal di sebuah rumah yang tidak terlalu bagus, hasil karyanya sendiri.

Kawan, Itulah yang terjadi dalam kehidupan kita, kadang kala banyak dari kita yang membangun kehidupan dengan cara yang aneh. Lebih memilih berusaha ala kadarnya ketimbang mengupayakan yang terbaik. Mari kita selelsaikan rumah kita dengan sebaik-baiknya, seolah hanya mengerjakannya sekali saja dalam hidup kita. Karena hari esok adalah hasil dari yang telah kita lakukan pada hari ini. Karena hidup, adalah proyek yang kita kerjakan sendiri.

(Resonansi Jiwa)

1 komentar:

Posting Komentar