Laman

Please Select The Desired Language

English French German Spain Italian Dutch Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

7 Feb 2012

Harga Waktu Seorang Ayah


Seperti malam-malam sebelumnya, Heri kepala cabang sebuah perusahaan swasta terkemuka, Tiba di rumahnya jam 10.00 malam. Dan tidak seperti biasanya, Bunga putrinya yang masih kels 1 sekolah dasar, yang membukakan pintu. Ia pun nampaknya sudah menunggu cukup lama. 

”Kok belum tidur sayang?” sapa Heri sambil mencium anaknya. Karena biasanya putri satu-satunya ini sudah lelap ketika ia pulang. Dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari. 

Sambil membuntuti sang ayah menuju ruang keluarga, bunga menjawab. ”Bunga sengaja menunggu ayah pulang, karena Bunga ingin bertanya berapa sih gaji ayah sebulan?” tanya Bunga 

”Loh tumben nanya gaji ayah? Mau minta uang lagi ya?” Ujar Heri sambil tersenyum. 

”Ah tidak kok yah, Bunga pengen tau aja” Jawab Bunga

”Nah sekarang Bunga boleh hitung sendiri, setiap hari ayah berkerja sekitar 10 jam dan di gaji sekitar 400 ribu rupiah. Setiap bulannya rata-rata dihitung 25 hari bekerja, jadi gaji ayah dalam satu bulan berapa? Ayo, kamu hitung !”

Bunga berlari mengambil pensil dan kertas menuju meja belajarnya, sementara ayahnya melepas sepatu dan menyalakan televisi. 

Ketika Heri beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Bunga berlari mengikutinya. ”Kalo 1 hari ayah dibayar 400 ribu rupiah berati setiap jamnya ayah digaji 40 ribu rupiah?” Kata Bunga. 

”Waah, anak ayah betul-betul pinter! Ya udah, sekarang Bunga cuci kaki, dan langsung bobo ya?” perintah Heri. 

Tetapi Bunga tidak beranjak dan diam sejenak, kemudian Bunga pun kembali bertanya, ”Ayah, Bunga boleh pinjam uang 5 ribu gak?” 

”Ah sudah Bunga, kamu gak usah macam-macam lagi ya ? buat apa sih minta uang malam-malam begini? Ayah kan capek Bunga, ayah mau mandi dulu ya. Sekarang kamu tidur” Perintah Heri.

”Tapi ayah....” 

Namun sepertinya kesabaran Heri pun habis. “Ayah bilang tidur Bunga..!” bentak Heri kepada Bunga. 

Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya. Seusai mandi Heri nampaknya menyesali tindakannya tadi, ia pun menengok Bunga ke kamar tidurnya. Ternyata anak kesayangannya itu belum tidur. Malah sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang 15 ribu ditangannya. Heri pun kemudian duduk di samping Bunga sambil mengelus kepala bocah kecil kesayangannya itu dan berkata, ”Bunga maafkan ayah ya Nak! Ayah sayang sama Bunga, tapi buat apa sih minta uang 5 ribu malam-malam begini? Kalo mau beli mainan, besok kan masih bisa. Jangankan 5 ribu rupiah, lebih dari itupun akan ayah kasih.” 

Mendengar hal itu Bunga memandang wajah ayahnya dan berkata, “Ayah, bunga gak minta uang sama ayah, Bunga hanya meminjam, nanti Bunga akan ganti setelah nabung lagi dari uang sisa jajan Bunga selama seminggu ini” 

”Iya ayah ngerti, tapi buat apa Bunga?” Tanya Heri lembut. 

”Bunga menunggu ayah dari jam delapan, bunga mau mengajak ayah main ular tangga, 30 menit saja. Ibu sering bilang kalo waktu ayah itu sangat berharga, jadi Bunga mau membeli waktu ayah. Ketika bunga buka tabungan, ternyata uang bunga hanya ada 15 ribu rupiah. Karena bilang dalam satu jam ayah dibayar 40 ribu rupiah, maka setengah jamnya ayah dibayar 20 ribu rupiah. Sedangkan tabungan Bunga kurang 5 ribu rupiah, makanya Bunga mau pinjam dari Ayah” Kata Bunga dengan polos. 

Mendengar keterangan anaknya itu, Heri pun terdiam dan kehilangan kata-kata. Lalu dipeluknya bocah kecil itu erat-erat. Dan di dalam angan-angannya, ingin sekali ia menemani anaknya itu bermain ular tangga sampai pagi.

0 komentar:

Posting Komentar